English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean
Tampilkan postingan dengan label mistery. Tampilkan semua postingan

Cacing Raksasa di Gunung Salak

========================

Cacing Raksasa di Gunung Salak

======================== 

Gunung Salak di Jawa Barat, diselimuti oleh hutan lebat dan banyak terdapat ribuan spesies flora dan fauna, termasuk cacing tanah raksasa dengan panjang lebih dari 1,5 meter. Kadang-kadang pendaki melihatnya ketika curah hujan tinggi dan terjasi hujan sepanjang hari di seluruh wilayah gunung. Cacing raksasa berwarna biru ini (Metaphire longa) oleh penduduk setempat disebut cacing sonari atau cacing bernyanyi, karena dapat mengeluarkan suara seperti peluit di malam hari. Cacing Sonari adalah sejenis cacing tanah.
Berbagai jenis cacing yang ditemukan di tanah yang lembab maupun hangat sering disebut Cacing Tanah,  atau juga adisebut “perayap malam” karena sering kali merayap ke atas permukaan tanah pada malam hari. Cacing tanah pada umumnya sering digunakan sebagai umpan untuk memancing. Selain itu cacing adalah makanan yang penting bagi burung, ayam, bebek.
Cacing Tanah sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Cacing membantu menguraikan humus,  membantu proses pembusukan di dalam tanah. Ketika cacing merangkak ke dalam tanah, tanah akan menjadi lebih gembur dan bercampur sehingga menjadi subur.
Pacet juga adalah sejenis cacing, pacet dapat kita temukan di tempat yang lembab dan banyak dedaunan. Seperti jalur selabintana di gunung Gede dan jalur gunung Salak yang lembab, di jalur yang banyak humus dan daun berguguran banyak terdaapat pacet.
Cacing tanah memiliki berbagai ukuran, mulai dari 1 milimeter sampai dengan 3 meter. Cacing tanah yang dijumpai tim merbabu.com di gunung Salak berukuran 1,5 meter panjangnya. Tubuhnya yang lembut terdiri darti cincin-cincin yang disebut “Annuli”. Tubuh coklat kemerahan cacing tanah ini terbentuk seperti dua tabung, yang  satu di dalam Yang Lain. Tabung bagian dalam adalah alat pencernaan dan tabung luar adalah kulit dinding tubuh. Cacing tanah tidak memiliki mata dan telinga, tetapi mereka memiliki mulut, dan tubuhnya peka terhadap panas, sentuhan, dan cahaya.
Seekor cacing merangkak dengan cara memanjangkan bagian depan tubuhnya dan mendorongnya melewati tanah. Selanjutnya menarik bagian belakang tubuhnya ke atas. Dinding tubuh cacing memiliki dua jenis otot yang digunakan untuk merangkak. Otot lingkar berfungsi untuk memperkecil dan memperbesar tubuh cacing (pacet dari ukuran lidi bisa melebar seukuran jempol kaki). Otot longitudinal berfungsi untuk memanjangkan dan memendekkan tubuh cacing. Bulu-bulu mencegah cacing agar tidak tergelincir.
Cacing tanah tidak memiliki insan atau paru-paru. Cacing bernafas lewat kulitnya yang tipis, yang bersentuhan dengan udara yang menempel pada benda-benda did lam tanah. Jika cuaca terlalu kering dan panas maka cacing akan mati. Cacing memakan sisa-sisa tumbuhan yang telah mati. Bisa juga dikatakan bahwa, cacing memakan jalanan yang hendak ia lewati ke dalam tanah.
Seekor cacing memiliki dua alat kelamin yakni jantan dan betina, meskipun demikian untuk dapat bertelur, cacing harus melakukan perkawinan dengan cacing yang lain. Telur yang telah dibuahi di letakkan pada struktur yang menyerupai manset yang mengelilingi tubuh cacing. Clitellum yakni beberapa annuli yang besar dari tubuh cacing, memproduksi manset untuk telur cacing.
Foto Cacing 1 panjang 1,5 meter
Foto Cacing 2 – Cacing 3 panjang 60 cm
Merbabu.Com


=======================================================

Kelelawar Raksasa Indonesia

===========================

Kelelawar Raksasa Indonesia 

===========================

Gunung salak, salah satu gunung indah di Indonesia. Tetapi, seekor makhluk yang misterius juga tinggal disana.

Makhluk ini disebut Ahool. Ahool dikatakan seperti kelelawar raksasa atau pterosaurus yang masih hidup.

Deskripsi

Ahool dikatakan sebesar anak berumur satu tahun dengan lebar sayap raksasa sekitar 10 kaki(3 meter). Tinggal di hutan hujan terdalam Jawa. Makhluk ini memiliki kepala seperti monyet atau kera dengan Mata besar berwarna hitam. Tubuhnya ditutupi rambut berwarna abu-abu gelap.

Penampakan

Ahool pertama kali dilihat oleh Dr.Ernest Bartels yang pada saat itu sedang menyusuri Gunung Salak.
Pada tahun 1925 Dr.Ernest Bartels yang sedang mejelajahi air terjun di lereng gunung salak, saat itu Kelelawar Raksasa menukik terbang diatas kepalanya.
Pada tahun 1927, sekitar pukul 11:30 malam, ketika Dr. Ernest Bartels berbaring di tempat tidurnya dalam pondoknya dekat sungai Tjidjenkol di Jawa barat, dia mendengar suara aneh dari yang berasal dari atas pondoknyaberbunyi A Hool, dan tampaknya suara ini semakin keras.
Dr. Bartels mengambil obor dan keluar dari pondok. Kurang dari 20 detik dia mendengar lagi suara A Hool. Ternyata itu adalah kelelawar raksasa yang dia lihat dua tahun lalu.

Pemikiran

Bartels mengira makhluk ini bukan kelelawar, melainkan burung raksasa. Cryptozoologist Ivan T. Sanderson tertarik dengan makhluk ini dikarenakan, dia juga pernah bertemu dengan makhluk kelelawar raksasa tetapi bukan di Jawa, melainkan di Gunung Assumbo, Kamerun, Afrika yang bernama Kongamato.
Sebagian Peneliti juga mengira Ahool adalah sisa pterosaurus.

Berdasarkan ciri-cirinya, Ahool mirip dengan Javan wood owl (Strix (leptogrammica) bartelsi) yang memiliki wajah dengan mata hitam yang besar, dan bulu yang membuatnya terlihat besar,lalu paruhnya yang kecil. Karateristiknya yang tersendiri adalah mengeluarkan suara HOOH!! seperti semua burung hantu besar, mereka menakuti semua makhluk yang masuk teritori mereka pada saat musim kawin. Mereka akan menyerang musuhnya dari atas dan belakang. dan tanpa disadari lawannya. selain itu, Javan wood owl ini merupakan burung langka yang sulit diteliti.

 

==========================================

Misteri Munculnya Gunung Di Tengah Laut Antara Pulau Jawa – Bali

================================================================

Misteri Munculnya Gunung Di Tengah Laut 

Antara Pulau Jawa – Bali


Saihu, salah satu warga Desa Pengambengan mengatakan banyak warga yang menduga jika gundukan itu adalah gunung. Dugaan tersebut muncul karena bentuk gundukan itu mengerucut seperti puncak gunung. Perairan yang dangkal itu kira-kira seluas 1 hektare. Hanya bagian itu yang dangkal, sementara di sekitarnya merupakan perairan dalam. “Pernah ada nelayan yang coba mengukurnya dengan tali sepanjang 100 meter tapi tidak mencukupi untuk sampai ke dasar,” kata Saihu. Meski sampai saat ini gundukan itu tidak menunjukkan aktivitas sebagai gunung berapi, belakangan mereka khawatir ketika banyak gunung berapi di tanah air aktivitasnya meningkat, termasuk Merapi dan Krakatau. Menurut Saihu, kekhawatiran paling besar dirasakan beberapa warga yang yakin gundukan itu adalah gunung. “Beberapa warga bilang, kalau takat deken itu meletus bisa habis Pengambengan ini,” ujar Saihu.
Meski banyak mendengar dugaan tetangganya tentang takat deken sebagai gunung berapi, Saihu sendiri belum sepenuhnya yakin.
“Saya sendiri antara percaya dan tidak, tapi banyak orang-orang tua yang percaya gundukan itu gunung,” katanya.
Sebagai warga masyarakat, Saihu minta pemerintah meneliti dan memberikan penjelasan kepada warga, apa sebenarnya gundukan tersebut.
“Kalau memang itu hanya semacam karang atau pun bukit di bawah laut, kami bisa tenang. Tapi kalau benar-benar gunung, kami juga bisa hati-hati. Pemerintah harus memberikan penjelasan biar warga tidak menduga yang bukan-bukan,” jelas Saihu.
Gundukan muncul di tengah laut yang memisahkan Pulau Jawa dan Bali. Inilah penjelasan gundukan misterius yang membuat masyarakat sekitar khawatir itu.
Kepala Sub Bidang Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi Kementerian ESDM Agus Budianto saat dihubungiINILAH.COM Kamis (4/11), menyatakan pihaknya tidak menemukan aktivitas gunung berapi di kawasan tersebut, sehingga, masyarakat tidak perlu khawatir.
Gundukan itu tidak termasuk dari 127 gunung berapi aktif di Indonesia yang di pantauan. Selain itu juga belum ada catatan gunung berapi di daerah tersebut.
“Bisa jadi, itu sekadar gundukan tanah biasa yang banyak sekali tersebar di Indonesia,” ujar Agus Budianto.
Menurutnya, masyarakat bisa menganalisis secara cepat lewat materinya.
“Biasanya, kalau gunung berapi berarti keluar magma atau lava. Selain itu, batuan yang sering ada adalah batuan ambesit. Kemudian muncul pula emisi gas belerang,” katanya.
Nelayan Desa Pengambengan Bali menyebut gundukan itu sebagai takat deken atau perairan penuh karang yang dangkal. Ada yang yakin itu gundukan gunung.
Dari cerita beberapa nelayan, di lokasi gundukan itu meski berada di tengah laut, saat air surut ketinggian airnya bisa hanya sebetis. Gundukan yang bila ditempuh dari Pengambengan memakan waktu 2 sampai 3 jam itu memunculkan kecemasan bagi warga. Mereka khawatir gundukan itu adalah gunung berapi.
Dugaan tersebut muncul karena bentuk gundukan itu mengerucut seperti puncak gunung. Gundukan di perairan yang dangkal itu kira-kira seluas 1 hektar.
Untuk lebih jelasnya , anda bisa datang sendiri ke pulau ini

=================================================================

Daftar isi

Ayoo.....SMS GRATIS Di Sini.


Widget By: Alien topan
Diberdayakan oleh Blogger.

Pencarian

Daftar isi

Menu

Negara Pengunjung

free counters

Status

Mengenai Saya

Foto saya
Banyuangi, Indonesia
One day later My body will die But in the distich of this poem I wouldn’t acquiesce you alone One day later My voice wouldn’t be heard again Yet among rows of this poem I will steadfast investigate you One day later My vision will be unrecognized again Yet, in the letter cracks of this poem I’ll look for you forever

Pengikut

Recent Comment

Paling Sering Di Kunjungi

Total Pengunjung

Download

Paling Populer


ShoutMix chat widget